Kamis, 10 November 2011

Filsafat Ilmu: Sumber Pengetahuan

One of the most discussed topic of the western philosophy: the source of knowledge.  Where does our knowledge come from? Do we perceive car tires as a circle because we know the concept of circle in geometry? Or perhaps the concept itself is something that naturally in us, an idea that born along us? Or maybe all humans are born with a blank concept and as we interact with the surrounding, ideas and concepts start filling us? This was the topic of the class.

Dari manakah pengetahuan kita berasal? Bagaimana kita tahu meja itu segi empat dan ban mobil itu bulat? Mungkin kita bisa bilang memang demikian halnya, seperti apa yang terlihat. Tapi pernahkah berpikir lebih jauh, bahwa jangan-jangan kita mengatakan ban mobil itu bulat oleh sebab konsepsi bentuk geometri bulat yang pernah kita kenal sebelumnya? Maksud dari sebelum, bukanlah sebelum dalam arti semasa kecil kita belajar bangun ruang dari matematika, tapi barangkali konsep-konsep geometri ini sudah terberi, alias ide bawaan ketika lahir. Mungkinkah? 

Atau jangan-jangan manusia ini lahir kosong, tanpa konsepsi apa-apa, dan kehidupan ini menulisi kekosongan itu. Jika demikian halnya, maka manusia adalah tergantung dari apa yang ia cerap indranya, atau secara lebih luas, manusia adalah tergantung dari lingkungannya. Bagaimana jika kita percaya gabungan keduanya? Misalnya, ada konsep yang memang terberi sebelum lahir, namun ada juga pengalaman-pengalaman yang kita kumpulkan semasa hidup. 

Inilah perdebatan yang paling hangat dan selalu hangat dalam sejarah pemikiran Barat. Selalu mempertanyakan sesungguhnya dari mana asal muasal pengetahuan kita. 

Rasionalisme

Rasionalisme digawangi oleh beberapa filsuf era Barok yang hidup di sekitar abad ke-16 dan ke-17, yakni Rene Descartes, Gottfried Liebniz, dan Baruch Spinoza. Rasionalisme adalah mereka yang secara ekstrim menolak bentuk pengetahuan berdasarkan pengalaman manusia. Katanya, bisa saja ini menipu, dan sebaiknya kita percaya dengan rasio saja yang jelas-jelas merupakan innate alias ide bawaan. Yang paling terkenal tentu saja Rene Descartes dengan cogito ergo sum-nya atau “aku berpikir, maka aku ada”. Katanya, lewat kemampuan rasio kita, kita akan sanggup membuktikan keberadaan kita sendiri. Rasionalisme adalah bentuk pemikiran yang mengandalkan metode deduktif, yakni dari umum ke khusus. Fenomena-fenomena indrawi jelas mereka tolak, dan yang mereka imani cuma pikiran. Kata Descartes, “Selapar apapun kita, jumlah sisi dalam segitiga tetaplah tiga.” 


Empirisisme 


Inilah lawan berat rasionalisme. Mereka menghancurkannya dengan satu kalimat saja, “Bagaimana anda tahu?” Misalnya, “Bagaimana anda tahu innate alias ide bawaan itu ada?” Tentu saja, kata empirisisme, mereka tidak sanggup menjawabnya oleh sebab pengalaman tentang innate itu sendiri hanyalah ilusi. Yang nyata adalah apa yang bisa dicerap indra, demikian kata para empiris seperti John Locke, George Berkeley dan David Hume yang hidup di sekitar abad ke-18. Secara ekstrim, David Hume malah berkata bahwa sebab-akibat atau kausalitas itu sendiri adalah ilusi. “Kaca pecah karena batu adalah ilusi. Kita tidak mempunyai pengetahuan kausalitas apapun. Yang ada hanya kronologi kaca pecah setelah batu melewatinya,” demikian secara tidak langsung Hume mengatakan demikian. Empirisisme sekaligus percaya bahwa manusia lahir kosong (tabula rasa), yang kemudian pengalaman demi pengalaman indrawi menulisi kekosongan itu. 


Kritisisme 


Kemudian, di tengah pertempuran sengit kedua paham tersebut, lahir seorang Immanuel Kant yang mendamaikan keduanya. Lahir tahun 1724, Kant hidup di masa transisi antara Era Pencerahan dengan Romantik. Ia seorang yang tak pernah ke luar kota seumur hidupnya, hanya menghabiskan keseharian di Konigsberg. Kant mengatakan bahwa Hume ada benarnya, bahwa kita mendapatkan pengalaman dari pengetahuan kita sehari-hari, atau Kant mengatakannya dengan aposteriori. Namun ada juga yang kita bawa dari lahir, yaitu kacamata bahwa segala-galanya ada dalam ruang dan waktu. Fenomena apapun, selalu kita tempatkan dalam ruang dan waktu. Kant pun menambahkan bahwa kausalitas adalah suatu keniscayaan, bahwa, “Kalau bola tiga kali jatuh ke lantai, maka pasti kita menyimpulkan bahwa keempat kalinya akan jatuh ke lantai, meskipun kita tidak punya pengetahuan tentang itu.” Filsafat Kant disebut dengan kritisisme oleh sebab ia sesungguhnya mengajukan suatu kritik pada pemikiran-pemikiran sebelumnya, alih-alih mengklaim pemikiran baru. Tapi bukankah seluruh bangunan pemikiran kita juga berfondasi pada kritik? 

Descartes, Hume, Kant, kamu percaya yang mana?

Syarif Maulana 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar