Selasa, 23 Oktober 2012

Konsep, Definisi, dan Klasifikasi

Selasa, 24 Oktober 2012

Pertemuan kedua dari Kelas Pengantar Logika didatangi oleh tiga orang peserta baru yakni Sebastian, Isna, dan Evi. Setelah minggu kemarin berkutat di perkenalan, pertemuan kali ini sudah masuk ke materi paling dasar dari logika yaitu konsep, definisi, dan klasifikasi.

Bagaimana sesuatu bisa disebut sesuatu? Maksudnya, bagaimana dua buku yang berbeda, yang punya warna sampul berbeda dengan ketebalan berbeda; judul berbeda; pengarang berbeda; kita masih tetap mengenakan satu konsep yakni "buku"? Kalau Rudy tanpa tangan, apakah kita masih sebut ia sebagai Rudy? Kalau Rudy tidak bernyawa, apakah namanya Rudy juga? Lantas, apa yang membuat konsep "Rudy" berbeda dengan konsep "Esoy" misalnya. Dalam konsep, di dalamnya terkandung dua aspek yaitu komprehensi dan ekstensi. Komprehensi adalah ciri-ciri, sedangkan ekstensi adalah contoh yang masuk ke dalam ciri-ciri tersebut. Berlaku hukum bahwa makin besar komprehensi, maka makin sedikit ekstensinya.

Misalnya:
  • Konsep: Mobil 
    • Komprehensi: Beroda minimal empat; bermesin 4 tak; Kekuatan mesin 500 CC ke atas; Mampu mengangkut penumpang minimal 2 orang; Berbahan bakar minyak.
      • Ekstensi: Sedan, SUV, MPV, APV, Minibus, city car, bus. 
Jika komprehensinya ditambah, maka:
    • Komprehensi: Beroda minimal empat; bermesin 4 tak; Kekuatan mesin 500 CC ke atas; Mampu mengangkut penumpang minimal 2 orang; Berbahan bakar minyak; Maksimal penumpang lima orang; Kapasitas mesin sampai 2000 Cc; Memiliki moncong dan bagasi berpintu maksimal empat. 
      • Ekstensi: Sedan. 
"Itu kenapa ya, jika kita ingin mencari orang hilang, komprehensi harus sebanyak-banyaknya agar semakin sempit definisi orang yang dimaksud," simpul Yura. Kebetulan, pembahasan pun sudah waktunya memasuki wilayah mengenai definisi. Definisi mempunyai sejumlah tujuan tentang mengapa penting untuk dipelajari:

  • Menunjukkan adanya keterhubungan. 
  • Meminimalisasi ambiguitas (lexical definition) dan keabu-abuan (precising definition).
  • Menambah kosakata (stipulative definition). 
  • Menjelaskan konsep secara teoritik (theoritical definition). 
  • Mempengaruhi perilaku (persuasive definition). 
Setelah memahami tujuan-tujuan tersebut, berikutnya masuk ke jenis-jenis pendefinisian dan aturan-aturan definisi. Jenis pendefinisian yang cukup lama dibahas adalah metoda genus dan spesies. Penggunaan genus dan spesies mengharuskan kemampuan yang baik dalam menglasifikasikan sesuatu. Misalnya: Bagaimana mendefinisikan gereja? Mula-mula, harus mengetahui gereja adalah bagian dari konsep apa, misal: tempat ibadah. Tempat ibadah sendiri ada banyak ragamnya seperti mesjid, gereja, pura, ataupun wihara. Harus ada pembeda spesifik antara gereja dengan tempat ibadah lain, misal: Ditujukan untuk orang beragama Kristen. Jadi, definisi gereja berdasarkan genus dan spesies adalah: Tempat ibadah yang ditujukan untuk orang beragama Kristen.

Kira-kira, bagaimana pendefinisian ini terjadi dalam keseharian? "Rata-rata, diskusi sering mandeg karena orang tidak terlebih dahulu mendefinisikan topik yang dimaksud. Jadinya, perdebatan menjadi soal definisi alih-alih substansi," kata Sebastian. Setelah itu, diberikan beberapa soal latihan yakni mendefinisikan sejumlah konsep yang sudah umum seperti alay, gangnam-style serta pornografi. Meski mendapatkan sejumlah kesulitan dalam mendefinisikan konsep-konsep tersebut, namun justru menjadi sadar akan keterbatasan bahasa. Kata Benny, "Memang ada hal-hal jelas yang ketika dibahasakan, malah menjadi tidak jelas."Misalnya, pendefinisian pornografi terbilang sangat sulit, termasuk dalam Rancangan Undang-Undang sekalipun, masih mengandung beberapa kata yang bias.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar