Jumat, 26 Oktober 2012

Mengontemplasikan Tubuh Astral

Jumat, 26 Oktober 2012


Hari Raya Idul Adha rupanya tidak menghalangi antusiasme belasan orang untuk tetap datang ke Garasi10 dalam rangka mendengarkan duo Gito Upoyo dan Eduard de Grave menjelaskan tentang anatomi tubuh spiritual manusia. Keduanya tidak hanya berduet membawakan materi, tapi juga memberikan latihan pembuangan energi negatif plus beberapa praktik pengobatan.



Eduard de Grave alias Edo membukanya dengan memberikan lingkup bahasan diskusi. "Tubuh manusia terbagi tiga yakni tubuh fisik, tubuh astral, dan tubuh kausal. Bahasan kita akan mencakup tubuh astral. Soal tubuh kausal, kami tidak sanggup menjangkaunya dan masih merupakan misteri," ujar Edo. Lalu ia pun melanjutkan, "Tubuh astral juga seperti tubuh fisik. Ia mempunyai organ-organ seperti cakra dan nadis. Berbeda dengan tubuh fisik yang memperoleh makanan dari hewani maupun nabati, tubuh astral memperoleh makanannya dari prana." Kemudian Edo menunjuk papan tulis yang sudah digambari anatomi tubuh astral oleh Pak Gito. Ia jelaskan satu per satu mulai dari bawah ke atas:

Anatomi tubuh astral.
"Cakra paling bawah disebut muladhara. Di atasnya disebut svadisthana, dan atasnya lagi, di pusar, disebut manipura.  Biasanya orang-orang yang cakra dari pusar ke bawah lebih aktif, orangnya lebih praktis, pragmatis, aktif, pandai mencari jalan keluar, tapi rata-rata juga minim kontemplasi," kata Edo sembari menunjuk makalah yang terdapat foto orang yang auranya berwarna merah. "Ini adalah contoh aura orang yang cakra dari pusar ke bawah lebih aktif. Orangnya amat pandai mencari uang," lanjut Edo. Setelah itu satu per satu Edo menjelaskan tentang cakra di atas pusar yaitu jantung (anahata), tenggorok (visudha), mata ketiga (ajna) dan mahkota (sahasrara). Edo kembali menunjuk foto orang yang auranya kebiru-biruan, "Cakra tenggoroknya sangat aktif. Dia orang yang kontemplatif, suka berpikir, dan juga senang bermeditasi."

Pembahasan mengenai aura ini menjadikan peserta antusias. Misalnya, ada pertanyaan, "Bagaimana dengan ritual seperti shalat, apakah punya fungsi memperbaiki aura?" Pak Gito kemudian menjawab, "Kalau shalatnya dilakukan dengan benar, maka auranya akan menjadi bagus. Tapi ada juga orang yang setelah shalat, auranya sama-sama saja." Lalu Pak Gito juga menambahkan, "Orang yang belajar spiritualitas semacam ini juga belum tentu mempunyai aura yang baik. Ada juga yang auranya kemerahan seperti orang-orang pragmatis. Sebaliknya, kami pernah menemukan orang yang auranya luar biasa itu di Yogya, dan ia berprofesi sebagai tukang sampah."

Edo dan Pak Gito.

Pak Gito juga mengingatkan musik yang baik untuk membuat aura lebih bagus seperti musik klasik. Musik klasik karya komposer tertentu mempunyai struktur harmonisasi yang baik. Juga musik klasik dibunyikan oleh instrumen-instrumen yang akustis sehingga lebih dekat dalam mengimitasi alam. "Musik seperti metal membuat aura berantakan, namun ia cocok untuk menyemangati. Contoh sederhananya, kalau sedang diputar musik metal lalu dimatikan, biasanya kita menjadi marah-marah," ujarnya disambut tawa para peserta. Lebih lanjut, Edo memaparkan secara terperinci hal-hal yang bisa membuat aura menjadi bagus seperti olahraga; mempelajari pranayama atau senam pernapasan; mempelajari pranic healing, reiki, dan metode penyembuhan lainnya; banyak mengonsumsi sayuran hijau dan mengurangi daging-dagingan; mengurangi atau menyetop rokok; dan belajar meditasi. Sebelum sesi ditutup, duo Pak Gito dan Edo mengingatkan tentang praktek "buka aura" yang sedang marak, "Hal spiritual semacam itu sekarang menjadi barang dagangan. Logikanya, jika aura dibuka, maka ia sebelumnya ditutup. Padahal, aura selalu terbuka. Bedanya ada pada warna dan tebal tipisnya."


Diskusi diakhiri dengan bersama-sama membuang energi negatif agar tidak menodai aura. Dibantu dengan bunyi mendenging dari mangkuk tibetan yang dibawa oleh Pak Gito, para peserta hanyut dalam kesunyian malam. Ada perasaan menyatu dengan semesta: bahwa aku, diri, ego, nama, menjadi tiada. Lebur.

Selasa, 23 Oktober 2012

Konsep, Definisi, dan Klasifikasi

Selasa, 24 Oktober 2012

Pertemuan kedua dari Kelas Pengantar Logika didatangi oleh tiga orang peserta baru yakni Sebastian, Isna, dan Evi. Setelah minggu kemarin berkutat di perkenalan, pertemuan kali ini sudah masuk ke materi paling dasar dari logika yaitu konsep, definisi, dan klasifikasi.

Bagaimana sesuatu bisa disebut sesuatu? Maksudnya, bagaimana dua buku yang berbeda, yang punya warna sampul berbeda dengan ketebalan berbeda; judul berbeda; pengarang berbeda; kita masih tetap mengenakan satu konsep yakni "buku"? Kalau Rudy tanpa tangan, apakah kita masih sebut ia sebagai Rudy? Kalau Rudy tidak bernyawa, apakah namanya Rudy juga? Lantas, apa yang membuat konsep "Rudy" berbeda dengan konsep "Esoy" misalnya. Dalam konsep, di dalamnya terkandung dua aspek yaitu komprehensi dan ekstensi. Komprehensi adalah ciri-ciri, sedangkan ekstensi adalah contoh yang masuk ke dalam ciri-ciri tersebut. Berlaku hukum bahwa makin besar komprehensi, maka makin sedikit ekstensinya.

Misalnya:
  • Konsep: Mobil 
    • Komprehensi: Beroda minimal empat; bermesin 4 tak; Kekuatan mesin 500 CC ke atas; Mampu mengangkut penumpang minimal 2 orang; Berbahan bakar minyak.
      • Ekstensi: Sedan, SUV, MPV, APV, Minibus, city car, bus. 
Jika komprehensinya ditambah, maka:
    • Komprehensi: Beroda minimal empat; bermesin 4 tak; Kekuatan mesin 500 CC ke atas; Mampu mengangkut penumpang minimal 2 orang; Berbahan bakar minyak; Maksimal penumpang lima orang; Kapasitas mesin sampai 2000 Cc; Memiliki moncong dan bagasi berpintu maksimal empat. 
      • Ekstensi: Sedan. 
"Itu kenapa ya, jika kita ingin mencari orang hilang, komprehensi harus sebanyak-banyaknya agar semakin sempit definisi orang yang dimaksud," simpul Yura. Kebetulan, pembahasan pun sudah waktunya memasuki wilayah mengenai definisi. Definisi mempunyai sejumlah tujuan tentang mengapa penting untuk dipelajari:

  • Menunjukkan adanya keterhubungan. 
  • Meminimalisasi ambiguitas (lexical definition) dan keabu-abuan (precising definition).
  • Menambah kosakata (stipulative definition). 
  • Menjelaskan konsep secara teoritik (theoritical definition). 
  • Mempengaruhi perilaku (persuasive definition). 
Setelah memahami tujuan-tujuan tersebut, berikutnya masuk ke jenis-jenis pendefinisian dan aturan-aturan definisi. Jenis pendefinisian yang cukup lama dibahas adalah metoda genus dan spesies. Penggunaan genus dan spesies mengharuskan kemampuan yang baik dalam menglasifikasikan sesuatu. Misalnya: Bagaimana mendefinisikan gereja? Mula-mula, harus mengetahui gereja adalah bagian dari konsep apa, misal: tempat ibadah. Tempat ibadah sendiri ada banyak ragamnya seperti mesjid, gereja, pura, ataupun wihara. Harus ada pembeda spesifik antara gereja dengan tempat ibadah lain, misal: Ditujukan untuk orang beragama Kristen. Jadi, definisi gereja berdasarkan genus dan spesies adalah: Tempat ibadah yang ditujukan untuk orang beragama Kristen.

Kira-kira, bagaimana pendefinisian ini terjadi dalam keseharian? "Rata-rata, diskusi sering mandeg karena orang tidak terlebih dahulu mendefinisikan topik yang dimaksud. Jadinya, perdebatan menjadi soal definisi alih-alih substansi," kata Sebastian. Setelah itu, diberikan beberapa soal latihan yakni mendefinisikan sejumlah konsep yang sudah umum seperti alay, gangnam-style serta pornografi. Meski mendapatkan sejumlah kesulitan dalam mendefinisikan konsep-konsep tersebut, namun justru menjadi sadar akan keterbatasan bahasa. Kata Benny, "Memang ada hal-hal jelas yang ketika dibahasakan, malah menjadi tidak jelas."Misalnya, pendefinisian pornografi terbilang sangat sulit, termasuk dalam Rancangan Undang-Undang sekalipun, masih mengandung beberapa kata yang bias.

Jumat, 19 Oktober 2012

Berakhirnya Kelas Eksistensialisme Sartre

Jumat, 19 Oktober 2012

Pertemuan terakhir ini, Kang Ami tidak menyiapkan materi apapun. Sesuai temanya, yaitu Refleksi Atas Pemikiran Sartre, Kang Ami memberi kesempatan masing-masing peserta untuk mempresentasikan tulisannya masing-masing. Sesuai tradisi, kelas eksistensialisme selalu melahirkan buku yang ditulis atas dasar pembatinannya terhadap pelajaran yang telah dicerna.

Meski dipresentasikan, namun rata-rata peserta belum merampungkan tulisannya. Kape bahkan merasa putus asa untuk memenuhi tugas ini. Katanya, "Gak bisa nulis euy. Ada yang punya buku kiat-kiat menulis gak?" Ping belum menulis, tapi ia sangat tergoda untuk mengambil inspirasi dari drama terkenal karya Sartre berjudul Huis Clos. Sedangkan Liky, ia tertarik untuk menulis sesuatu bertemakan self-deception.

Faishal, yang baru saja lulus kuliah, bercerita tentang pengalamannya lulus. Ia bercerita tentang pendidikan yang semakin lama semakin mirip pabrik. Ada semacam keinginan dari otoritas kampus untuk membentuk mahasiswanya menjadi sesuatu yang sifatnya masal dan bukannya otentik. Kang Ami menyarankan, "Baca Toto Chan deh, untuk melengkapi amunisimu melihat bagaimana pendidikan seharusnya."

Rudy mendapat gilirannya sekarang. Ia menyajikan empat tulisan: pertama puisi, kedua cerpen, ketiga aforisme, keempat autobiografi. Rudy memulai dengan membacakan puisi berjudul Ketiadaanku adalah Eksistensiku.. Berikutnya, Rudy menceritakan tulisannya berjudul Kebebasan Kumaha Aink. Yang ketiga, Rudy menyajikan kumpulan aforismenya berjudul Ayat-Ayat Mata dibalas Mata. "Tapi tulisanku yang ketiga ini banyak mengandung paradoks," ujar Rudy. Ia kemudian membacakan salah satunya: Sesungguhnya kebabasan itu apabila dibahasakan dan menjadi tujuan bagi tiap-tiap diantaramu maka kebebasan itu menjadi penjara kehidupan karena tak ada satupun kata maupun kalimat yang dapat kau terima sebagai kebebasan. 

Rudy membacakan karyanya.
Setelah pembacaan panjang lebar oleh Rudy ini, suasana menjadi lebih santai. Ngobrol-ngobrol menjadi tidak formal dan lebih membicarakan hal-hal yang di luar filsafat. Meski demikian, kata Kang Ami, "Yang seperti ini adalah cara terbaik memahami eksistensialisme. Mengenal diri sebagai yang otentik." Obrolan bebas pun terpaksa dihentikan oleh upacara penutupan yang diawali dengan sepatah dua patah kata oleh Pak Setiawan Sabana selaku kepala Garasi10.

Kelas Eksistensialisme Jean-Paul Sartre pun ditutup dengan meluluskan tujuh orang alumni. Semoga filsafat yang dipelajari tidak cuma berakhir di balik meja dengan bertopang dagu memikirkan dunia. Apalah guna filsafat, selain menjadikan manusia menjadi manusia seutuhnya.

Ping Setiadi Yap menerima sertifikat tanda kelulusan.

Rabu, 17 Oktober 2012

Pertemuan Perdana Kelas Pengantar Logika

Selasa, 16 Oktober 2012

Kelas Pengantar Logika dimulai malam itu di Garasi10. Pendaftarnya ada tujuh orang termasuk satu diantaranya adalah siswi kelas 3 SMA bernama Yura. Kelas Pengantar Logika ini direncanakan akan berlangsung delapan kali pertemuan. Tidak seperti kelas filsafat pada umumnya yang menitikberatkan pada berpikir reflektif, kelas ini mencoba kembali ke dasar: berpikir tentang pikiran itu sendiri. Wajar jika nantinya ada semacam latihan soal atau pekerjaan rumah, karena untuk memikirkan tentang pikiran, butuh sedikit kedisiplinan.

Rudy mengaku membutuhkan kelas ini, "Saya kerap mengalami masalah ketika bicara ataupun menulis. Semoga dengan belajar logika, cara penyampaian saya makin tertata." Pertemuan pertama ini tidak langsung masuk ke materi, melainkan semacam perkenalan. Misalnya, memahami posisi logika dibandingkan dengan cabang-cabang filsafat lainnya seperti estetika, epistemologi, metafisika, ataupun etika. Estetika, misalnya, mempelajari hakikat keindahan; epistemologi membahas hakikat batas-batas pengetahuan; metafisika membahas hakikat ada; etika membahas hakikat kebaikan. Posisi logika disini adalah mempelajari hakikat pikiran.

Mengapa kita mesti berpikir mengenai pikiran? "Karena dalam setiap gerak, kita berpikir," kata Yura yang juga diamini oleh peserta lainnya. Selain dalam setiap gerak, secara spesifik kita mulai berpikir ketika misalnya, mendapat pertanyaan dari orang lain; ada perubahan dalam lingkungannya; pernyataannya dibantah oleh orang lain maupun diri sendiri; serta dorongan rasa ingin tahu. Dalam buku Daniel B. Calne berjudul Batas Nalar, bahkan kegiatan berpikir itu sendiri direduksi menjadi sekadar sarana untuk memenuhi tujuan utama manusia yaitu makan, minum, tidur dan seks.

Pembahasan kemudian masuk pada prinsip-prinsip dasar dalam berpikir yaitu asas identitas, asas pengecualian kemungkinan ketiga, dan asas non-kontradiksi.
  • Asas identitas berarti segala sesuatu adalah dirinya sendiri (A adalah A; A adalah bukan non A). Rudy adalah Rudy dan bukan Esoy.
  • Asas pengecualian kemungkinan ketiga berarti dalam pernyataan mesti menegaskan, tidak boleh ada dua kebenaran yang tidak bisa dipersandingkan. Misal, "Kamu mau es teh panas?" Hal yang demikian harus dipisah karena mengandung kontradiksi (Es teh tidak mungkin panas) menjadi, "Kamu mau es teh atau teh panas?" Atas penggunaan kata "atau" tersebut, maka harus dipilih salah satunya, karena keduanya jika dipersandingkan tidak bisa bersatu -jika bersatu menjadi kalimat nonsens-. Tidak mungkin kita menjawab, "Saya ingin dua-duanya sekaligus," yang berarti kita memilih kemungkinan ketiga -padahal kemungkinan ketiga itu tidak boleh-. 
  • Asas non-kontradiksi hampir mirip, namun biasanya kata sambung yang dipakai adalah "dan". Tidak boleh ada kalimat misalnya, "Rudy adalah seorang laki-laki dan perempuan." Karena laki-laki dan perempuan adalah hal yang persis berkontradiksi. Tapi masih boleh kalimat semisal, "Rudy adalah seorang yang baik dan ramah," karena baik dan ramah masih identik.
Yang dipelajari di kelas ini nantinya adalah logika informal maupun logika formal. Logika informal terdiri dari konsep, pernyataan, dan kerancuan berpikir. Sedangkan logika formal terkandung di dalamnya berpikir deduktif dan induktif. Sumber buku yang digunakan untuk kuliah ini adalah Introductory Logic dan Intermediate Logic oleh James B. Nance dan Douglas C. WIlson; Logika: Filsafat Berpikir karya A. Soedomo Hadi dan Pengantar Logika oleh B. Arief Siddharta. Minggu depan, kelas akan membahas tentang pendefinisian dan pengklasifikasian.

Jumat, 12 Oktober 2012

Sartre dan Kebebasan

Jumat, 12 Oktober 2012

Sambil menanti proses buffering youtube yang akan menayangkan salah satu drama terkenal karya Sartre berjudul Huis Clos, sang mentor, Rosihan Fahmi, memberi pengantar terlebih dahulu.

Kang Ami mempersandingkan tiga konsep subjek-objek yang ada pada tiga pemikir yakni Sartre, Foucault, dan Pramoedya Anata Toer. Sartre dengan mengintip-nya, Foucault dengan panoptikon-nya dan Pram dengan rumah kaca-nya. Ketiganya bersinggungan dengan kebebasan manusia. Bahwa jika ada yang mengawasi, maka manusia otomatis kehilangan kemerdekaannya. "Konsep ketiganya, jika mau three in one, bisa disaksikan dalam film The Truman Show," kata Kang Ami merujuk pada film garapan sutradara David Weir tahun 1999 tersebut.

Sebagai makhluk yang bereksistensi sebelum esensi, manusia tidak terikat atau terbelenggu pada berbagai pasokan definisi tentangnya. Sebaliknya, definisi tentang dirinya justru ditentukan oleh pilihan-pilihannya sendiri. Manusia, kata Sartre, adalah makhluk yang terus menjadi. Kedua, manusia adalah makhluk berkesadaran, sehingga ia bercitrikan kekosongan, berlawanan dengan kepadatan benda-benda. Manusia tidak pernah terumuskan secara tuntas. Karena manusia selalu berongga, maka manusia bebas. "Meskipun demikian Sartre beranggapan kebebasan bukan berarti tanpa tanggung jawab, kebebasan justru mengindikasikan tanggung jawab," lanjut Kang Ami.

Huis Clos siap ditayangkan..

Huis Clos adalah karya tahun 1944 yang diperankan oleh hanya empat orang. Salah seorang dari mereka, yakni disebut sebagai The Valet, mengantarkan satu per satu orang bernama Joseph Garcin, Inès Serrano dan Estelle Rigault. Mereka diantarkan The Valet menuju tempat yang bernama neraka. Dikira oleh Joseph, Inès, dan Estelle, neraka itu tempat yang dipenuhi alat-alat penyiksaan. Namun setelah lama kelamaan mereka berbincang bertiga, barulah sadar bahwa alat-alat penyiksaan itu tidak ada. Neraka sesungguhnya adalah ketika mereka saling mengobjekkan satu sama lain, "Orang lain adalah neraka."

Setelah menyaksikan beberapa saat, Kang Ami mengarahkan pertanyaannya pada Fio, seorang mahasiswa baru di FSRD ITB. Kang Ami bertanya, "Kamu mahasiswa baru, pasti sering diobjekkan, dibentuk identitasnya oleh kakak kelas. Kapan momen kamu yang paling otentik?"Kata Fio, "Ketika saya berupaya kabur dari ospek." Kang Ami melanjutkan pertanyaannya pada Kape dan dijawab singkat, "Tidak ada." Pertanyaan lalu mengarah pada Freddy, dan dijawabnya, "Ketika bisa mengambil pengobjekkan yang dilakukan oleh orang lain, untuk diramu menjadi diri yang otentik." 

Faktisitas merupakan salah satu pemikiran Sartre atas "fakta-fakta" yang tak terhindarkan dalam kehidupan manusia. Fakta-fakta tersebut, dimata Sartre tidak dapat ditiadakan namun dapat "dilupakan", "diolah", atau dimanipulasi. Kang Ami melanjutkan pembahasannya dengan konsep mauvaise foi atau "keyakinan yang buruk". Bagi Sartre, terdapat dua pilihan hidup bagi manusia, yakni hidup secara otentik atau hidup dengan mauvaise foi. Apa contoh mauvaise foi? Pelayan di toko yang mesti tersenyum ramah pada setiap pengunjung, ia sadar betul bahwa dirinya sedang berakting. Itu Sartre sebut sebagai otentik. Namun ada juga pelayan yang tidak sadar bahwa dirinya tengah berakting. Ia merasa ikut arus menjadi orang lain, sehingga dirinya tidak mungkin menjadi bahagia. Ada penolakan dalam dirinya.



Rabu, 10 Oktober 2012

Mengenal Anatomi Tubuh Spiritual Manusia

Jumat, 26 Oktober 2012
Pk. 18.30 - 21.00
Garasi10, Jl. Rebana no. 10
Gratis dan Terbuka untuk Umum

Pengantar 

Mari memulai dengan membagi tubuh yang kita kendarai ini: 

  • Tubuh fisik (Sthula Sharira): adalah lapisan tubuh yang paling padat dan keberadaannya dapat kita sadari dengan mudah. Tubuh ini adalah yang paling kecil dan umurnya paling singkat dari seluruh eksistensi tubuh. Tubuh fisik mengalami kelahiran dan kematian. Tubuh ini mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. 
  • Tubuh astral (Shukma Sharira): tubuh yang halus dan sering kali tidak disadari keberadaannya oleh manusia. Tubuh ini seperti tubuh fisik juga mempunyai organ-organ tubuh seperti cakra dan nadis. Tubuh Astral memperoleh makanan dari prana. 
  • Tubuh kausal (Karaana Sharira): tubuh halus ini adalah yang paling indah, paling subtle, paling besar, dan paling kuat dari semua tubuh lainnya. Tidak banyak yang diketahui tentang tubuh yang satu ini dan bagaimana perilakunya. Namun kita mendengar dan membaca kisah para nabi, para wali, para yogi agung atau mistikus yang dapat melakukan berbagai macam keajaiban dan mukjizat, misalnya tidak makan dan minum selama periode yang amat panjang, berjalan di atas air, berteleportasi, dan lain-lain. Mereka ini rata-rata telah menyadari dan memanfaatkan kekuatan dari tubuh kausalnya. Tubuh kausal tidak dibahas lebih detail lagi karena tubuh ini tidak mengenal penyakit fisik dan non fisik. 

Apa yang akan dibahas nanti adalah topik tubuh astral (Astral body / Shukma Sharira). Tubuh astral kita sama seperti tubuh fisik. Sama persis. Dimana letaknya ? dia ada bertumpang tindih dan melingkupi tubuh fisik kita. Kira-kira mungkin 10 cm dari permukaan kulit kita. Jika tubuh fisik terdiri dari organ-organ fisik bagian dalam seperti tulang, jantung, paru-paru, liver, empedu, ginjal, dll maka tubuh astral juga mempunyai organ astral.

Ikuti diskusinya untuk mengetahui lebih lanjut!

Pemateri

Gito Upoyo sudah memberikan banyak pelatihan dari mulai Reiki dan Pranic Healing, workshop Kundalini Chakra Yoga, Quantum Magnetism Technique, hingga pelatihan Reiki jarak jauh. Bersama Eduard de Grave, ia juga menulis buku Yoga untuk Pasangan Suami Istri. Saat ini, aktivitas Gito adalah sebagai instruktur yoga dan fitness, marketing di sebuah hotel, serta menjadi ketua Ksatria Shakti, sebuah wadah untuk belajar ilmu pernapasan.